Nonton TV Lokal Gratis

HANYA GORESAN BELAKA

Senin, 06 April 2009

'FAST AND FURIOUS', Yang Tercepat Yang Diperhitungkan

Pemain: Vin Diesel, Paul Walker, Michelle Rodriguez, Jordana ಬ್ರೆವ್ಸ್ತೆರ್
Pertama gw lihat film ini di iklankan di TV..wow gw kaget ternyata ada film seri fast to furious menjadi fast and furious..sang sutradara emang hebat bangat katanya neh film ini memuncaki box office amerika dengan perolehan US$ 72 Juta.bener2 berhasil neh film..ini dia resensi nya sapa tau anda tertarik untuk menontonnya.
Hubungan antara Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O'Conner (Paul Walker) memang unik. Di satu sisi Dom sangat membenci Brian karena ia adalah polisi yang menyamar menjadi pembalap untuk membekuk komplotan perampok yang dipimpin Dom, tapi di sisi lain, Brian juga sempat menyelamatkan nyawanya beberapa kali.
Setelah mencoba untuk menjauh dari Brian, akhirnya takdir membawa Dom kembali ke Los Angeles di mana ia harus bertemu Brian lagi. Namun kali ini kembali Dom terpaksa harus menjalin kerja sama dengan orang yang dibencinya ini karena mereka berdua menghadapi musuh yang sama. Tak ada pilihan buat Dom dan Brian selain saling mempercayai untuk menyelesaikan misi pribadi mereka masing-masing.
Brian ditugaskan untuk menyusup ke jaringan pengedar narkotika bernama Antonio Braga (John Ortiz). Brian menemukan celah saat Braga mencari seorang pembalap liar untuk dijadikan kurir. Celakanya, Dominic juga mengincar posisi yang sama meski sebenarnya motivasi Dominic adalah murni dendam. Dominic ingin membalas kematian Letty (Michelle Rodriguez) karena ulah Braga.
Sebuah film ber-genre racing mampu bertahan hingga sekuel keempat boleh jadi adalah sebuah prestasi. Tapi bisa jadi juga peluncuran bagian keempat ini sebagai penebus dari dua episode sebelumnya yang gagal. Ini terlihat dari susunan pemain yang sama dengan bagian pertama yang melambungkan genre film racing di tahun 2001 lalu.
Diakui atau tidak, 2 FAST 2 FURIOUS dan THE FAST AND THE FURIOUS: TOKYO DRIFT memang gagal menduduki peringkat yang sama dengan bagian pertama. Dua film ini seolah kehilangan taring bila dibandingkan dengan episode awalnya. Topik yang mulai terasa monoton dan sekuens laga yang tak lagi menarik bisa dijadikan kambing hitam gagalnya film ini di pasaran. Tapi agaknya kenyataan itu tak membuat Universal Studios menyerah dan muncullah bagian keempat dengan original lineup ini.
Tapi kalaupun dianggap bagian keempat ini sebagai koreksi, sepertinya usaha itu juga tak terlalu berhasil. Menu yang disuguhkan juga masih tak jauh dari tiga bagian sebelumnya. Akhirnya, studio cuma bisa berharap bahwa para peminat genre film racing masih cukup banyak dan bersedia mengeluarkan uang untuk menonton film ini.
Alur cerita tak cukup kuat untuk membuat film ini jadi sesuatu yang pantas dikenang sementara akting para pemainnya juga tergolong standar saja. Soal visual memang masih cukup menarik walau sebenarnya tak ada sesuatu yang baru sama sekali. Kalau Anda melewatkan tiga bagian sebelumnya, mungkin tak ada salahnya Anda mencoba FAST & FURIOUS ini sebaliknya jika Anda mengikuti franchise ini dari awal, tak akan rugi jika Anda melewatkan yang satu ini. Kecuali, tentu saja, jika Anda ingin mengenang masa lalu melihat penampilan Vin Diesel dan Paul Walker. By : richardo

Kamis, 19 Februari 2009

sejarah desain grafis

Desain grafis berkembang pesat seiring dengan perkembangan sejarah peradaban manusia saat ditemukan tulisan dan mesin cetak. Perjalanan desain dan gaya huruf latin mulai diterapkan pada awal masa kejayaan kerajaan ROMAWI. Kejayaan kerajaan Romawi di abad pertama yang berhasil menaklukkan Yunani, membawa peradaban baru dalam sejarah Barat dengan diadaptasikannya kesusasteraan, kesenian, agama, serta alfabet Latin yang dibawa dari Yunani. Pada awalnya alfabet Latin hanya terdiri dari 21 huruf : A, B, C, D, E, F, G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X, kemudian huruf Y dan Z ditambahkan dalam alfabet Latin untuk mengakomodasi kata yang berasal dari bahasa Yunani. Tiga huruf tambahan J, U dan W dimasukkan pada abad pertengahan sehingga jumlah keseluruhan alfabet Latin menjadi 26.
Ketika perguruan tinggi pertama kali berdiri di Eropa pada awal milenium kedua, buku menjadi sebuah tuntutan kebutuhan yang sangat tinggi. Teknologi cetak belum ditemukan pada masa itu, sehingga sebuah buku harus disalin dengan tangan. Konon untuk penyalinan sebuah buku dapat memakan waktu berbulan-bulan. Guna memenuhi tuntutan kebutuhan penyalinan berbagai buku yang semakin meningkat serta untuk mempercepat kerja para penyalin (scribes), maka lahirlah huruf Blackletter Script, berupa huruf kecil yang dibuat dengan bentuk tipis-tebal dan ramping. Efisiensi dapat terpenuhi lewat bentuk huruf ini karena ketipis tebalannya dapat mempercepat kerja penulisan. Disamping itu, dengan keuntungan bentuk yang indah dan ramping, huruf-huruf tersebut dapat ditulisakan dalam jumlah yang lebih banyak diatas satu halaman buku.
Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perkembangan desain grafis. Johannes Gutenberg (1398-146 menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan pada tahun 1447 dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa.
1851, The Great Exhibition
Diselenggarakan di taman Hyde London antara bulan Mei hingga Oktober 1851,pada saat Revolusi industri. Pameran besar ini menonjolkan budaya dan industri serta merayakan teknologi industri dan disain. Pameran digelar dalam bangunan berupa struktur besi-tuang dan kaca, sering disebut juga dengan Istana Kristal yang dirancang oleh Joseph Paxton.

1892, Aristide Bruant, Toulouse-Lautrec
Pelukis post-Impressionist dan ilustrator art nouveau Prancis, Henri Toulouse-Lautrec melukiskan banyak sisi Paris pada abad ke sembilan belas dalam poster dan lukisan yang menyatakan sebuah simpati terhadap ras manusia. Walaupun lithography ditemukan di Austria oleh Alois Senefelder pada tahun 1796, Toulouse-Lautrec membantu tercapainya peleburan industri dan seni.
1910, Modernisme
Modernisme terbentuk oleh urbanisasi dan industrialisasi dari masyarakat Barat. Sebuah dogma yang menjadi nafas desain modern adalah “Form follow Function” yang di lontarkan oleh Louis Sullivan.Symbol terkuat dari kejayan modernisme adalah mesin yang juga diartikan sebagai masa depan bagi para pengikutnya. Desain tanpa dekorasi lebih cocok dengan ´bahasa mesin´, sehingga karya-karya tradisi yang bersifat ornamental dan dekoratif dianggap tidak sesuai dengan ´estetika mesin´
1916, Dadaisme
Suatu pergerakan seni dan kesusasteraan (1916-23) yang dikembangkan mengikuti masa Perang Dunia Pertama dan mencari untuk menemukan suatu kenyataan asli hingga penghapusan kultur tradisional dan bentuk estetik. Dadaism membawa gagasan baru, arah dan bahan, tetapi dengan sedikit keseragaman. Prinsipnya adalah ketidakrasionalan yang disengaja, sifat yang sinis dan anarki, dan penolakan terhadap hukum keindahan.
1916, De Stijl
Gaya yang berasal dari Belanda, De Stijl adalah suatu seni dan pergerakan disain yang dikembangkan sebuah majalah dari nama yang sama ditemukan oleh Theo Van Doesburg. De Stijl menggunakan bentuk segi-empat kuat, menggunakan warna-warna dasar dan menggunakan komposisi asimetris. Gambar dibawah adalah Red and Blue Chair yang dirancang oleh Gerrit Rietveld.
1918, Constructivism
Suatu pergerakan seni modern yang dimulai di Moscow pada tahun 1920, yang ditandai oleh penggunaan metoda industri untuk menciptakan object geometris. Constructivism Rusia berpengaruh pada pandangan moderen melalui penggunaan huruf sans-serif berwarna merah dan hitam diatur dalam blok asimetris. Gamabr dibawah adalah model dari Menara Tatlin, suatu monumen untuk Komunis Internasional.
1919, Bauhaus
Bauhaus dibuka pada tahun 1919 di bawah arahan arsitek terkenal Walter Gropius. Sampai akhirnya harus ditutup pada tahun 1933, Bauhaus memulai suatu pendekatan segar untuk mendisain mengikuti Perang Duni Pertama, dengan suatu gaya yang dipusatkan pada fungsi bukannya hiasan.

1928-1930, Gill Sans
Tipograper Eric Gill belajar pada Edward Johnston dan memperhalus tipe huruf Underground ke dalam Gill Sans. Gill Sans adalah sebuah jenis huruf sans serif dengan proporsi klasik dan karakteristik geometris lemah gemulai yang memberinya suatu kemampuan beraneka ragam (great versatility).

1931, Harry Beck
Perancang grafis Harry Back ( 1903-1974) menciptakan peta bawah tanah London (London Underground Map) pada tahun 1931. Sebuah pekerjaan abstrak yang mengandung sedikit hubungan ke skala fisik. Beck memusatkan pada kebutuhan pengguna dari bagaimana cara sampai dari satu stasiun ke stasiun yang lain dan di mana harus berganti kereta.
1950s, International Style
International atau Swiss style didasarkan pada prinsip revolusioner tahun 1920an seperti De Stijl, Bauhaus dan Neue Typography, dan itu menjadi resmi pada tahun 1950an. Grid, prinsip matematika, sedikit dekorasi dan jenis huruf sans serif menjadi aturan sebagaimana tipografi ditingkatkan untuk lebih menunjukkan fungsi universal daripada ungkapan pribadi.
1951, Helvetica
Diciptakan oleh Max Miedinger seorang perancang dari Swiss, Helvetica adalah salah satu tipe huruf yang paling populer dan terkenal di dunia. Berpenampilan bersih, tanpa garis-garis tak masuk akal berdasarkan pada huruf Akzidenz-Grotesk. Pada awalnya disebut Hass Grostesk, nama tersebut diubah menjadi Helvetica pada tahun 1960. Helvetica keluarga mempunyai 34 model ketebalan dan Neue Helvetica mempunyai 51 model.
1960s, Psychedelia and Pop Art
Kultur yang populer pada tahun 1960an seperti musik, seni, disain dan literatur menjadi lebih mudah diakses dan merefleksikan kehidupan sehari-hari. Dengan sengaja dan jelas, Pop Art berkembang sebagai sebuah reaksi perlawanan terhadap seni abstrak. Gambar dibawah adalah sebuah poster karya Milton Glaser yang menonjolkan gaya siluet Marcel Duchamp dikombinasikan dengan kaligrafi melingkar. Di cetak lebih dari 6 juta eksemplar.

1984, ÉmigréMajalah disain grafis Amerika, Émigré adalah publikasi pertama untuk menggunakan komputer Macintosh, dan mempengaruhi perancang grafis untuk beralih ke desktop publishing ( DTP). Majalah ini juga bertindak sebagai suatu forum untuk eksperimen tipograf

Tak Ada Alasan Tidak Bisa

''Mas Huda tolong mesin Cromoset itu diamankan dan dipindah ke TMG Bekasi. Anda punya waktu hanya satu malam. Ingat, bukan 24 jam, tapi satu malam saja. Sebelum jam kantor (jam 8) mesin harus sudah pindah dari tempat semula.''Kata-kata itu adalah perintah Chairman/CEO Jawa Pos Dahlan Iskan kepada Misbahul Huda, penulis buku ini, menyusul penghentian kerja sama Jawa Pos dengan koran Merdeka pimpinan B.M. Diah pada paro kedua 1990-an. Inilah perintah yang bagi banyak orang akan dinilai sebagai ''perintah edan''.
Bagaimana tidak edan? Apa yang disebut ''mesin Cromoset'' adalah mesin cetak koran buatan Jerman seberat 60 ton, setara 3-4 kontainer. Bagaimana mungkin pemindahan itu bisa dilakukan dalam semalam? Dalam kondisi normal, waktu bongkar mesin sejenis itu perlu 5-7 hari. Tetapi tak ada peluang bagi Huda, sebagai pimpinan Temprina Media Grafika (grup Jawa Pos, divisi percetakan), untuk menjawab ''tidak bisa''.
Maka ia pun menjawab, ''Ya, saya coba, dan mencari jalan keluar, Pak.''Rapat koordinasi teknis ternyata memberikan jalan keluar. Siang sebelumnya, sejumlah orang mendapat tugas mencicil pelepasan semua baut-mur yang memungkinkan.
Caranya dengan berpura-pura melakukan perawatan mesin. Ini karena malam harinya mesin itu masih dipakai mencetak koran Merdeka hingga pukul 02.00 dinihari. Setelah proses cetak malam itu selesai, mesin mulai diprotoli berikut komponen-komponennya. ''Tepat subuh dinihari mesin utama bisa dikeluarkan dan sebelum jam 08.00 evakuasi bisa dituntaskan,'' tulis Huda dalam buku Mission Ini Possible. Tetapi, sebenarnya, permintaan seperti itu sudah biasa diterimanya dari ''Pak Bos'' -panggilan akrab Dahlan Iskan. Pengadaan mesin Cromoset dari Jerman itu juga menyimpan kisah menarik lainnya. Dahlan Iskan memberi waktu paling lambat 3-4 bulan harus sudah beroperasi, padahal normalnya butuh waktu 18 bulan. Seperti biasa, tidak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa.Setelah menyusuri internet, ditemukan mesin itu di pabrik MAN Plamag Plauen, Jerman. Meskipun spesifikasi sudah cocok dan harganya pun disepakati, pengirimannya bakal lama bila menggunakan kapal laut. Akhirnya, muncul ide gila, yaitu dengan mencarter pesawat cargo berbadan lebar dari Belanda, Martin Air. ''Mungkin ini yang pertama dalam sejarah dunia grafika, mesin cetak seberat 60 ton didatangkan dengan pesawat terbang cargo.
Tak lebih dari seminggu kemudian mesin tersebut bisa keluar dari Bandara Cengkareng," kata Huda.Masih ada kisah-kisah empirik lain yang intinya adalah ide-ide gila atau setengah gila tetapi berhasil dijalankan. Ada kisah bagaimana Jawa Pos menjadi koran pertama di Indonesia yang melaksanakan sistem cetak jarak jauh (CJJ). Pertama di Solo, kemudian di Banyuwangi, dan ketiga di Tanjung Pinang, pulau kecil dekat Batam. Sukses lainnya adalah saat melakukan ''kawin siri'' mesin cetak Amerika dan Eropa, juga mesin-mesin lain. Mesin Gemini buatan India dikawinkan dengan Cromoman buatan Jerman, diberi nama ''Giman''.
Mesin Gemini dikawinkan Goss Universal buatan Prancis dan diberi nama ''Ginem''. Ini menimbulkan kekaguman. Seorang bos pembuat mesin yang dikawinkan itu geleng-geleng kepala saat berkunjung ke percetakan Jawa Pos. ''It's miracle, amazing,'' katanya.Salah satu poin penting yang digarisbawahi Huda dari sukses Jawa Pos adalah kekuatan ekspektasi Dahlan Iskan lewat frase ''harus bisa''. Frase inilah yang menularkan virus antusiasme, semangat, dan gairah kerja yang luar biasa. Dari frase ini pula rupanya penulis menemukan judul nyleneh bukunya: Mission Ini Possible.Success Story Buku ini bisa disebut sebagai bagian dari success story koran Jawa Pos. Penulisnya ''punya otoritas'' untuk berbicara. Bukan karena ia lulusan Teknik Mesin UGM dengan predikat cumlaude. Tetapi lebih karena Huda meniti kariernya dari pekerja biasa di percetakan 20 tahun yang lalu, hingga memegang sejumlah jabatan komisaris dan dirut di grup Jawa Pos. Termasuk sebagai dirut Adiprima Suraprinta, pabrik kertas milik Jawa Pos di Driyorejo. Dahlan Iskan mengatakan, sudah lama ia tahu bahwa Huda mempunya potensi besar.Sebagai sebuah buku motivasi, penulis meramu isinya dengan pandangan-pandangan motivator lain atau tokoh terkenal dan ayat-ayat Alquran serta Hadis Nabi Muhammad SAW. Masuk akal karena Huda sebelumnya juga dikenal sebagai penceramah agama yang andal, sering diundang memberi khotbah nikah sampai tablig akbar.Dalam buku ini, Huda mengawalinya dengan menjelaskan enam ''hukum mental'', antara lain Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction), Hukum Tabur Tuai (The Law of Harvest), Hukum Fokus (The Law of Loupe), Hukum Keyakinan (The Law of Believe), dan Hukum Ekspektasi (The Law of Expectation). Dalam Hukum Tabur Tuai, misalnya, ia menyebutkan, barang siapa menabur pasti menuai, dan barang siapa menanam pasti akan mengetam. Seperti kalam arabi man yazra' yahsud.''Adagium ini sudah sangat populer, intinya memuat pesan moral: Pikirkan dan kerjakan segala sesuatu dengan baik, maka segala sesuatu (semesta) yang baik akan mengikutinya,'' kata Huda.Di bagian lain, Huda mengungkapkan pandangan yang menggelitik. Ia mengatakan miskin itu potensial dosa. Tidak sepantasnya kita itu miskin, karena modal untuk membuat manusia sudah cukup mahal. Sebaliknya, kaya itu wajib. Setiap agama samawi mewajibkan pemeluknya untuk kaya, meski hanya secara implisit dinyatakan dalam kitab suci. ''Pesan kaya selalu kontekstual dengan zakat, haji, bederma, memberi dengan kasih, dan sebagainya. Karena itulah, kekayaan dianjurkan sekadar sebagai sarana dan jembatan menuju peran kemanusiaan yang lebih mulia,'' kata Huda.Sebuah buku yang menarik, tetapi mestinya bisa lebih baik dengan editing yang lebih cermat dan teliti. (*)* Djoko Pitono, Jurnalis dan Editor Buku

Jumat, 16 Januari 2009

'ONG BAK 2', Kisah Klasik Tentang Balas Dendam

Pemain: Tony Jaa, Sorapong Chatree, Saranyu Wongkrajang, Santisuk Promsiri, Natdanai ಕೊಂಗ್ತ್ಹೊಂಗ್
Tien (Tony Jaa) adalah seorang putra Jendral yang terpaksa harus melihat kedua orang tuanya dibantai Lord Rajsena yang ingin menguasai seluruh negeri. Tien yang berhasil lolos dari pembantaian kemudian ditangkap oleh pedagang budak yang bermaksud menjualnya pada para bangsawan.
Sebelum Tien sempat dijual sebagai budak, seorang pria bernama Chernang yang kemudian menculik Tien. Chernang kemudian mengajarkan bermacam jenis bela diri pada Tien. Bertahun kemudian, Tien yang menguasai berbagai macam bela diri kemudian diangkat sebagai ketua kelompok yang sebelumnya dipimpin oleh Chernang.
Suatu ketika, secara tak sengaja, Tien melihat sebuah pengumuman bahwa Lord Rajsena sedang mencari petarung terbaik untuk menjadi pengawalnya. Tien dengan mudah dapat melewati ujian ini dan berhasil menjadi orang kepercayaan Lord Rajsena. Kini Tien punya kesempatan untuk membalas dendam kematian kedua orang tuanya. Namun bila tak hati-hati maka nyawa Tien sendiri yang akan menjadi korban.
Sebenarnya tak banyak yang dijanjikan oleh film yang disutradarai oleh Tony Jaa ini. Ide cerita masih seputar heroisme ala film-film Shaw Brothers bahkan nyaris tanpa sentuhan apapun. Malah bisa dibilang ide cerita film ini tak jauh dari cerita drama televisi yang hanya menjual 'emosi' pada penonton tanpa ada kedalaman cerita atau karakter. Artinya, penonton akan 'dipaksa' untuk mencintai sang tokoh protagonis dan membenci tokoh antagonis dengan berbekal alasan-alasan klasik.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan ide cerita ini selama dari sisi visual masih ada yang mengimbanginya. Beberapa film laga juga mengusung ide cerita yang kurang lebih sama namun mereka berhasil tampil dengan baik karena koreografi tarung yang fresh, special effect yang memukau atau permainan sudut pengambilan gambar yang baik. Sayangnya, itu semua tak ada dalam film yang satu ini.
Sudut pengambilan gambar terasa datar dan bahkan editing terasa terpotong-potong sehingga alur dari satu adegan ke adegan yang lain terasa tersendat-sendat. Akibatnya, jalan cerita yang memang kurang kokoh jadi terasa makin lemah. Apa lagi karakter masing-masing pemerannya juga tak terlalu dalam sehingga kesan artifisial sangat terasa sekali.
Koreografi tarung yang diharap mampu menjadi sebuah suguhan yang memuaskan pun gagal menjadi daya tarik. Pengambilan gambar dari jarak jauh sementara beberapa pemeran tampak sedang 'menunggu giliran' bertarung malah semakin memperburuk performa film ini. Sebenarnya dengan editing yang baik dikombinasi dengan pengambilan gambar dari jarak dekat akan sedikit menolong koreografi tarung film ini. Tentunya itu membutuhkan seorang sutradara yang cukup jeli.
Singkatnya, film ini gagal menyajikan sebuah tontonan yang benar-benar bisa dinikmati dan meski ending film dibuat 'terbuka', tak ada rasa penasaran yang cukup kuat untuk menonton kelanjutan dari film yang sebenarnya adalah prekuel dari film berjudul ONG BAK ini. (kpl/roc)

'BURN AFTER READING', Balas Dendam Yang Berbuntut Kekacauan

Pemain: John Malkovich, George Clooney, Frances McDormand, Brad Pitt, Tilda Swinton, Richard Jenkins, David ರಸ್ಚೆ
Ozzie Cox (John Malkovich) adalah seorang anggota CIA yang dipecat lantaran selalu bermasalah dengan alkohol. Pemecatan ini membuat Ozzie jengkel dan bermaksud membalas dendam sakit hatinya. Ia bermaksud menulis sebuah biografi yang akan mengungkap keburukan CIA.
Ternyata masalah Ozzie masih bertambah lagi, Katie (Tilda Swinton), istrinya, minta diceraikan. Dan yang lebih buruk lagi, Katie malah membawa pergi CD berisi biografi Ozzie yang belum selesai. Masalah jadi semakin rumit ketika Katie secara tidak sengaja meninggalkan CD itu di sebuah fitness center.
Chad Feldheimer (Brad Pitt), salah seorang pelatih di fitness center itu kemudian menemukan CD yang tertinggal itu. Chad dan Linda Litzke (Frances McDormand), pemilik fitnes center tempat Chad bekerja kemudian berencana untuk memeras Ozzie dengan menggunakan CD ತೆರ್ಸೆಬುತ್
Di tempat lain, Harry Pfarrer (George Clooney), seorang Federal Marshal, ternyata menjalin hubungan asmara dengan Kattie istri Ozzie. Harry yang memang suka gonta-ganti pacar kemudian secara tak sengaja bertemu dengan Linda lewat sebuah biro kencan online. Harry pun akhirnya mau tak mau terlibat dengan skenario pemerasan yang sudah dirancang Chad dan Linda.
Film komedi ini adalah hasil karya dua sutradara Joel Coen dan Ethan Coen yang juga menggarap film sukses NO COUNTRY FOR OLD MEN. Sayangnya eksperimen dua sutradara ini agaknya membuat film ini jadi sedikit sulit dicerna. Penonton dibuat bingung ke mana arah film ini akan dibawa. Akibatnya, penonton harus membagi perhatian antara menikmati film ini sebagai sebuah lelucon atau memperhatikan alur cerita agar tak jadi makin bingung.Eksperimen lelucon seperti ini memang berpotensi untuk jadi tidak lucu karena 'kelucuan' yang dimuat sebenarnya adalah dari sisi parodi yang dibawa oleh alur cerita dan para tokoh yang terlibat di dalamnya. Film ini memang sarat berisi parodi terutama tentang dunia spionase mirip parodi yang dibawakan Mike Myers lewat film AUSTIN POWERS.
Yang membedakan antara film BURN AFTER READING ini dengan AUSTIN POWERS mungkin hanyalah dari penerjemahan kekonyolan oleh para aktornya yang berbeda. Jelas film ini berbeda karena para aktor dan aktris pendukungnya, notabene, adalah aktor dan aktris serius seperti George Clooney atau Brad Pitt.
Singkatnya, film ini memang bukanlah film komedi yang dengan mudah membuat Anda tertawa terbahak-bahak, meski sebenarnya itu sangat tergantung pada sense of humor. Yang jelas, film ini punya cukup bobot dari segi penggarapan maupun akting. Masalah bisa diterima atau tidak, sepertinya sang sutradara tak terlalu perduli.
(kpl/roc)










'FEAST OF LOVE', Seribu Wajah Cinta

Pemain: Morgan Freeman, Selma Blair, Greg Kinnear, Toby Hemingway, Radha Mitchell, Stana Katic, Fred ವಾರ್ಡ್
Cinta memang adalah sebuah fenomena yang tak pernah bisa diduga perwujudannya. Ada yang mewujudkan cinta dengan keindahan dan kasih sayang sementara tak jarang pula yang menganggapnya tak lebih dari sekedar penderitaan yang menyakitkan. Dan itulah yang ingin disampaikan oleh film ini.
Diana (Radha Mitchell) adalah seorang agen real estate yang menjalin hubungan asmara dengan Bradley (Greg Kinnear) yang memiliki sebuah coffee house di kota Oregon. Hubungan asmara Bradley sebelumnya dengan seorang wanita bernama Kathryn (Selma Blair) berakhir dengan kegagalan.
Sayangnya kali ini Bradley masih belum beruntung karena Diana juga menjalin hubungan dengan seorang pria bernama David (Billy Burke). Diana kemudian meninggalkan Bradley untuk David, pria yang dicintainya. Bradley yang merasa hancur kemudian dekat dengan Margaret (Erika Marozsan).
Di sisi lain, Harry (Morgan Freeman), Chloe (Alexa Davalos), dan Oscar (Toby Hemingway) masing-masing juga memiliki masalah dengan hubungan asmara mereka. Dari sekelompok kecil manusia yang dipersatukan lingkungan yang sama ini terlihat begitu rumitnya permasalahan asmara yang mereka hadapi dan tak bisa mereka tolak.
Film drama cinta ini diangkat dari sebuah novel karya Charles Baxter dengan judul yang sama. Dan ini bukanlah sesuatu yang mudah karena novelnya sendiri punya tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk divisualisasikan. Masalahnya, novel ini memiliki banyak karakter yang punya bobot hampir sama dan alur ceritanya sendiri selalu berubah-ubah sudut pandang.
Untungnya, Allison Burnett yang dipercaya mengerjakan naskahnya cukup mampu mengambil 'roh' dari novel ini meski tak bisa sepenuhnya dibilang taat pada sumber aslinya. Setidaknya karakter dan plot cerita masih bisa dialihkan dengan baik meski tak bisa sepenuhnya mengadaptasi seluruh alur cerita dengan sempurna.
Kasus yang sering muncul pada film hasil adaptasi novel adalah batasan durasi yang membuatnya jadi sulit untuk benar-benar mewakili sebuah deskripsi yang tergambar pada novelnya. Dan film FEAST OF LOVE ini juga bukan pengecualian. Ada beberapa proses yang terasa berjalan terlalu cepat dan sulit untuk diterima. Akibatnya memang agak sulit terlibat secara emosional dengan beberapa sudut dari film yang punya banyak alur ini. Untungnya para aktor dan aktris pendukungnya cukup mampu menghayati peran yang mereka bawakan dan memberikan 'jiwa' pada karakter yang mereka mainkan.
Secara umum. FEAST OF LOVE ini memang bukan tontonan ringan karena ide ceritanya sendiri sudah cukup berat. Dan yang jelas ini bukan tontonan untuk anak kecil lantaran banyak adegan seks meski semuanya diperlihatkan dengan sentuhan seni dan sama sekali tak terkesan erotis. (kpl/roc)

Sabtu, 10 Januari 2009

'BEDTIME STORIES', Dongeng Yang Jadi Nyata


Pemain: Adam Sandler, Keri Russell, Guy Pearce, Teresa Palmer, Courteney Cox, Lucy Lawless, Russell Brand, Richard Griffiths, Aisha Tyler, Jonathan ಪ್ರ್ಯ್ಚೆ
Skeeter Bronson (Adam Sandler) mungkin bukan termasuk contoh orang yang sukses. Pekerjaannya sebagai teknisi di sebuah hotel tak terlalu menjanjikan masa depan buat Skeeter. Namun semuanya tiba-tiba saja berubah saat Skeeter menemukan satu bakat 'unik' yang ದಿಮಿಲಿಕಿನ್ಯ
Tanpa disadari, semua cerita yang dibacakan Skeeter untuk kedua keponakannya tiba-tiba secara ajaib menjadi kenyataan. Skeeter yang 'membaca' peluang emas ini kemudian mengarang-ngarang cerita dengan maksud mengambil keuntungan dari bakat anehnya ini. Skeeter bermaksud mengambil alih posisi Kendall (Guy Pearce) sebagai manajer hotel.
Sayangnya, 'campur tangan' kedua keponakannya mengubah rencana menuju kesuksesan ini menjadi malapetaka yang tak terbayangkan. Kini Skeeter harus berusaha keras untuk 'memperbaiki' semua kerusakan yang secara tak langsung telah ia lakukan.
Dunia dongeng memang tak pernah berhenti menjadi daya tarik buat anak-anak, bahkan mereka yang sudah dewasa. Dan peluang inilah yang mendasari film hasil arahan sutradara Adam Shankman ini. Waktu peluncuran film ini pun terasa tepat karena pada liburan panjang akhir tahun biasanya seluruh keluarga punya waktu luang cukup banyak untuk nonton film.
Namun meski film ini dibuat untuk 'ramah' anak kecil, bukan berarti bahwa orang dewasa tak dapat menikmati film ini. Humor-humor segar yang muncul dari kekonyolan Adam Sandler masih cukup relevan untuk dikonsumsi seluruh keluarga. Hasilnya, film ini memang pas dikonsumsi seluruh keluarga di penghujung tahun 2008 ini.
Soal akting, para pendukungnya memang tak perlu lagi diragukan. Sukses memerankan tokoh yang dirundung kesialan seperti dalam film LITTLE NICKY atau ANGER MANAGEMENT membuat Adam Sandler terlihat 'pas' memerankan tokoh Skeeter dalam film ini. Yang agak disayangkan mungkin adalah Guy Pearce yang agaknya kurang pas dipasang sebagai pemeran karakter Kendall.
Yang tak kalah menariknya justru adalah penampilan dua bintang cilik Laura Ann Kesling dan Jonathan Morgan Heit yang terlihat begitu wajar memerankan dua keponakan Skeeter. Sementara Russell Brand yang pertama kali tampil dalam film FORGETTING SARAH MARSHALL juga terlihat 'enjoy' berperan sebagai Mickey.
Jangan berharap ada logika karena film ini memang adalah sebuah dongeng sebelum tidur. Dan seperti kebanyakan dongeng sebelum tidur, banyak hal mustahil yang bisa saja terjadi. Terlepas dari itu, Adam Shankman, sang sutradara mampu mengolah ide cerita sederhana namun liar ini menjadi sebuah tontonan happy ending yang layak jadi tontonan penutup tahun ini.
(kpl/roc)







Belajar membuat website » Membuat website itu sangatlah mudah, dapatkan panduannya di sini ! ditunjang berbagai software & full support. daftar segera !! http://www.resepbisnis.com/?id=rohman

John Cena

Flixster - Share Movies
Flixster - Share Movies
Flixster - Share Movies
Flixster - Share Movies
Flixster - Share Movies
BIODATA : NAME : John Cena , Date Of Birth : April 23 1997 , Place Of Birth : West Newbury,Massachuesetts , Film : The Marine